Langkau ke kandungan utama

Adikku sayang


Assalamualaikum..... 


Kali ini aku nak share satu cerita dengan anda. Kisah seorang anak. Suka duka hidup yang dilalui..... Jemput baca:

Siang itu pulang sekolah aku makan disamping mamaku, beliaulah yang telah melahirkan dan mengurusku dari kecil dengan penuh kasih sayang. Aku memiliki satu adik perempuan yang masih berumur kuranglebih dua tahun. Aku sendiri masih berumur 7 tahun.

Sudah tiga hari ini mamaku terbaring sakit panas tinggi, sementara papaku ada dikota lain sedang mengurus sesuatu. Karena mama sakit kami menginap dirumah nenek.

Wajah mamaku pucat dan lesu tangannya membelai rambutku.

“Sayang, jika mama nanti sudah tidak ada, jangan nakal ya, jaga adikmu ya.., jangan nakal dengan ibu tirimu” kata mamaku yang aku tidak mengerti maksudnya apa.

Hanya menunduk dan terus melanjukan makanku. 

Waktu itu aku ingat mama memakai baju hangat berwarna hijau. 

Tanpa ada firasat apa-apa, seperti biasa main dengan sepupu dan adikku tidak jauh dari mamaku. Keluarga ku yang lain bergantian mengurus mamaku

Sorenya papaku pulang, aku gembira sekali sudah hampir dua minggu tidak bertemu papaku. Suasana terasa hangat kami terus bercengkrama disamping pembaringan mama, adikku juga ada disana.

Tiada disangka ini adalah sore dan malam terakhir aku bersama mamaku, setelah kedatangan papa, kondisi mama membaik sebentar, namun sekitar jam 11 malam kondisi mama kristis, semua keluarga telah berkumpul, Aku dan adikku sempat diminta mama agar mendekat ke ranjang ditempat mama terbaring, cuma aku saja yang ada disana. Adikku dipisahkan kekamar sebelah tidur.

Ini lah detik detik terakhir aku melihat mamaku, Didepanku, papa, nenek paman dan keluargaku yang lain mama berpulang kerahmatulah.

Mamaku telah pergi, mamaku telah tiada. Innalilahi wa innailaii rajiun.

Allah telah menjemput mamaku disaat aku dan adikku masih kecil. 

Kami semua sayang pada mama, mungkin Allah lebih sayang pada mama, Allah tidak ingin mama lama dalam penderitaan sakitnya.

Kini kehidupanku adikku berubah, hidup tanpa orang yang kami sayangi. Jika adiku bertanya tentang mama, kami menghiburnya “mama sedang bobo.. jauuuh sekali nanti juga pulang”

Lama kelamaan adikku mengerti kalau mamanya tak mungkin kembali.

Aku mulai hidup pindah pindah dari satu kota kekota lain, ikut keluarga mamku. Membuatku lebih tegar menghadapi hidup. Aku juga pernah tinggal bersama papa dan mama tiriku, disini aku baru menyadari pesan mamaku siang hari sebelum beliau meninggal. Aku harus jadi anak yang baik dan menjaga adikku satu satunya.

Mama tiriku sangat baik, Allah mengganti mamaku dengan mama yang mengajarkan banyak hal, membaca alquran sehingga sekarang membuatku hafal beberapa juz alquran, Sholat, memasak, mencuci, mengurus rumah, beternak dan bertani. Walaupun aku anak laki-laki tapi di kelas 5 SD aku sudah bisa diandalkan mama tiriku tentang masalah dapur dan rumah.

Pahit kehidupan kulalui, kadang aku harus bekerja sambil sekolah untuk membiaya hidupku. Pekerjaan ini aku bisa membantu sekolah adikku sampai tamat SMA,

Aku tumbuh remaja.

Tapi aku tidak bisa seperti remaja lain yang menghabiskan masa remajanya dengan indah.

Kehidupan keras menempaku, aku pernah tinggal didaerah terminal antarkota, tinggal didaerah pasar. Segala bentuk pergaulan kulalui, tak jarang aku harus berkelahi meghadapi anak anak lain yang akhirnya menjadi sahabat-sahabatku.

Semenjak meninggal ibuku karakterku terbentuk keras, perkelahian dan amarah menjadi kebiasaanku tak jarang papa dan nenek ku harus berurusan dengan orangtua temanku dan dokter, karena korban pukulan, ada beberapa orang yang harus dijahit pelipis dan dagunya. Namun tak jarangpula aku pulang dengan wajah biru dan lebam.

Mama.., Maafkan aku aku tidah bisa menjadi anakmu yang baik. Kehidupan ini begitu keras.

Tahun terus berlalu, keadaan telah merubahku, semakin keras hidup ini. Semakin tegar aku hadapi. Kini kujalani hiduku dengan Islami, mendekatkan diri kepada Allah, kuteruskan hafalan Qur’anku, membuat hidupkan ku lebih tenang.

Aku sadar Allah lah yang telah merencanakan kehidupan untukku, dibalik pahitnya hidupku Allah telah beri banyak kebaiikan untukku, segala keahlian dari mama tiriku, Disiplin, Jiwa persaudaraan di teman teman jalananku, dan nikmat yang lain yang tidak dapat ku hitung satu persatu.
“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan ?” 
- (QS Arrahman : 13) 

Namun disetiap moment indah kekeluargaan, seperti Idul fitri, semua orang kembali kekampung halaman untuk silaturahmi dengan mama atau keluarga mereka

Sementara aku hanya tertunduk menangis disini mengenang mamaku, 

Dihari ibu ini suasana hatiku kembali kacau ingat mamaku sambil memegang salah satu photo mama ketika menggendongku, istirahatlah mama… doaku selalu untuk mama,

Kehidupanku masih panjang, dan akan kuperjuangkan. Aku kan selalu jaga Adikku untuk mama.

*posting ini sudah lama, tahun 2008 dahulu tetapi bila aku terjumpa dan terbaca, aku rasa perlu untuk aku pinjam dan masukkan di sini. Agar anda yang masih ada ibu dan ayah menghargai mereka. agar ibu dan ayah memahami anak-anaknya. - terima kasih.* 

==================================

Ulasan

  1. sayangai dan hargai mereka selagi berkesempatan...
    al-fatihah buat ibu bapa diluar sana sama ada yg masih hidup atau sudah tiada...amin~

    BalasPadam
  2. Ad_dEen, ibu ayah precious sebenarnya sebagaimana anak2 yg teristimewa dlm hati ibu dan ayah...

    BalasPadam

Catat Ulasan

terima kasih kerana anda sudi singgah dan sudi komen.

Catatan popular daripada blog ini

Cerpen: Dia Idaman Jiwa

1
“Hi, boleh aku duduk kat sini?”

Aliah mendongak. Demi terpandang sahaja wajah itu, air mukanya terus berubah. Riak tidak senang ditunjukkan kepada lelaki itu.

“Cepatlah jawab! Senang aje soalan aku tu. Boleh, jawablah boleh...”

“Kalau saya jawab tak boleh?”

Abid terus menarik kerusi yang bertentangan dengan gadis itu.

“Aku tetap duduk sini jugak.” Balasnya sambil tersengih-sengih.

“Macam tak ada tempat lain!”

“Banyak! Sana kosong. Tu, di belakang kau tu pun kosong. Tapi, aku saja aje nak duduk depan kau. Dah sebulan aku cari kau tapi tak jumpa-jumpa. Alhamdulillah, hari ini dapat juga. Kau apa khabar? Sihat?”

Aliah tidak menyahut. Sebaliknya, dia terus menyuap dan kali ini suapannya sengaja dilajukan, tidak lagi menikmati nasi campur yang dimakan. Ketika itu, dia hanya berkeinginan untuk cepat-cepat menyudahkan makan tengah harinya supaya dia dapat pergi dari situ dengan segera. Dia tidak mahu mengadap muka lelaki yang kini sedang berada di hadapannya walau sehebat, sekacak mana se…

Yang Terakhir: Versi Cerpen

1
“Kau dah habis fikir ke, Khairi? Perempuan macam Najiha tu kau nak bawak ke majlis Annual Dinner kita? Tak malu ke nanti bila orang gelakkan kau?” tanya Hafiz sambil mengerutkan dahi. Dia keliru dengan sikap Khairi Iqbal. Rasanya, selama mereka berkawan, belum pernah walau sekali pun, Khairi memuji gadis yang seorang itu. Gadis yang bernama Izzatul Najiha. Tup tup, hari ini, dia buat keputusan hendak menjadikan Najiha pasangannya semasa majlis kemuncak nanti. Hisy, pelik betul!
“Malu, memanglah aku malu! Tapi aku cuma nak gunakan dia saja. Nak buat Amalina cemburu.” Balas Khairi sambil menyisip air lemon perlahan. Sejuk rasa kerongkongnya bila air itu menerobos masuk ke dalam rongga.
Mata Hafiz buntang. Kepala tergeleng-geleng.
“Kenyataan kau tu lagi buat aku tak faham! Kalau kau nak buat Amalina cemburu, kau patut bawak perempuan lain. Bukan si Najiha yang macam hantu bungkus tu!”
Terlambak tawa Khairi Iqbal mendengar kata-kata sahabat baiknya itu. Hantu bungkus? Si Najiha tu?…

Inikah Cinta? : Versi Cerpen

1

"Ouch!"

Cepat-cepat Janet menghisap jari telunjuk yang terhiris tadi. Setelah kesakitan itu hilang, dia segera membasuh jari itu. Dia kemudian mengelap lalu membalut luka dengan plaster.

"Sakit? Itulah pasal. Mak Nah dah cakap, biar mak Nah aje yang buat tapi Janet degil sangat. Hendak jugak main-main pisau," sindir orang gajinya menyebabkan Janet ketawa besar.

"Inilah yang orang cakap, luka di tangan nampak berdarah. Luka di hati tak siapa tahu. Kan, mak Nah?"

Mak Nah melepaskan keluhan sebelum mencuri pandang ke arah wajah ayu di sisinya yang kini sedang tunduk dan berpaling ke arah lain. Hati mak Nah kini turut melagukan irama sedih yang pasti sedang berdendang dalam hati Janet. Biarpun sudah lama ia berlalu, pasti kenangan itu hadir kembali sebaik rangkap pepatah itu diungkap. Tempat jatuh lagikan dikenang, inikan pula kisah cinta penuh keindahan. Ke mana hendak dicampakkan?

"Dah enam tahun... dia tentu dah lupakan saya. Tentu dah kahwin…