Langkau ke kandungan utama

pengorbanan seorang ayah

sempena hari raya haji, di sini aku masukkan...erti pengorbanan. yg pertama ini tentu sahaja ttg pengorbanan seorang ayah. mengapa? krn dia kepala keluarga....
......................................

Suatu ketika ada seorang anak perempuan yg bertanya kepada ayahnya,tatkala tanpa sengaja ia melihat ayahnya sedang mengusap wajah yang mulai berkerut dengan badan yang mulai bongkok, disertai batuk-batuk.


Anak perempuan itu bertanya kepada ayahnya....,: 

"Ayah, kenapa wajah ayah kian berkerut dan badan ayah kian hari kian bongkok???" 

si ayah menjawab, " Kerana aku lelaki!"



anak perempuan itu berkata sendirian.... "Aku tidak mengerti". kening berkerut. jawaban si ayah membuat hatinya bingung dan tak mengerti. 

Ayah hanya tersenyum. dipeluk dan dibelainya rambut si anak sambil menepuk bahunya. Ayah berkata, 

"Anakku, kamu memang belum mengerti tentang lelaki.". 

bisik si ayah membuat anaknya bertambah bingung.



Kerana perasaan ingin tahu, dia mendapatkan ibunya lalu bertanya, 


"Ibu, mengapa wajah ayah kian berkerut dan badan ayah kian hari kian bongkok? seolah-olah, ayah membiarkan dirinya begitu tanpa ada keluhan atau rasa sakit !"

Ibunya menjawab. "Anakku, jika memang seorang lelaki bertanggung jawab terhadap keluarga itu memang akan demikian.". 

sehingga si anak menjadi dewasa, dia masih mencari-cari jawaban kepada soalannya itu. 

Kenapa wajah ayahnya yang tampan berubah menjadi berkerut dan badannya membongkok?



Hingga suatu malam dia bermimpi, dan di dalam mimpinya dia seolah-olah mendengar suara yg lembut dan jelas. Itu ternyata merupakan rangkaian jawaban kepada semua pertanyaan-pertanyannya selama ini.



"Saat Kuciptakan lelaki, AKU membuatnya sebagai pemimpin keluarga, serta sebagai tiang penyangga dari bangunan keluarga tersebut, dan ia senantiasa akan berusaha menahan setiap ujungnya agar keluarganya senantiasa merasa aman, teduh dan terlindungi. "



"Kuciptakan bahunya yg kuat dan berotot untuk membanting tulang menghidupi seluruh keluarganya dan kegagahannya harus cukup kuat untuk melindungi seluruh keluarganya. "



"Kuberi kemauan kepadanya agar selalu berusaha mencari sesuap nasi yg berasal dari titisan keringatnya sendiri yang halal dan bersih, walaupun seringkali ia mendapat cercaan dari anak-anaknya, "



"Kuberikan keperkasaan dan mental baja yang akan membuat dirinya pantang menyerah, demi keluarganya ia merelakan kulitnya tersengat panasnya matahari, demi keluarganya ia merelakan badannya berbasah kuyup kedinginan karena tersiram hujan dan terhembus angin, ia relakan tenaga perkasanya demi keluarganya dan yang selalu dia ingat adalah disaat semua keluarganya menanti kedatangannya dengan mengharapkan hasil jerih payahnya."



"Kuberikan kesabaran,ketekunan dan kesungguhan yang akan membuat dirinya selalu berusaha merawat dan membimbing keluarganya tanpa ada keluh kesah. walaupun disetiap perjalanan hidupnya keletihan dan kesakitan seringkali menerpanya."



"Kuberikan perasaan kuat dan gigih untuk berusaha berjuang demi mencintai dan mengasihi keluarganya, di dalam suasana dan situasi apapun, walaupun sering anak-anaknya melukai perasaannya dan hatinya."



"Padahal perasaannya itu pulalah yang telah memberikan rasa aman di saat anak-anaknya tertidur lelap, serta sentuhan perasaannya itulah yang memberikan kenyamanan bila saat dia sedang menepuk-nepuk bahu anaknya agar selalu saling mengasihi dan menyayangi sesama saudara."



"Kuberikan kebijaksanaan dan kemampuan kepadanya untuk memberikan pengertian dan kesadaran kepada anak-anaknya tentang saat kini dan saat mendatang, bahkan seringkali ditentang dan ditolak oleh anak-anaknya. "



"Kuberikan kebijaksanaan dan kemampuan padanya untuk memberikan pengetahuan dan kesadaran bahwa isteri yang baik adalah isteri yang setia terhadap suaminya, isteri yang baik adalah isteri yang selalu menemani dan bersama-sama menjalani perjalanan hidup baik suka maupun duka, walaupun seringkali kebijaksanaannya itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada isteri,agar tetap berdiri, bertahan, sepadan dan saling melengkapi dan saling mengasihi."



"Kuberikan kerutan di wajahnya agar menjadi bukti, bahawa lelaki itu senantiasa berusaha sekuat daya pikirnya untuk mencari dan menemukan cara agar keluarganya dapat hidup di dalam keluarga bahagia dan badannya yang bongkok agar dapat membuktikan, bahawa sebagai lelaki yang bertanggung jawab terhadap seluruh keluarganya, senantiasa berusaha mencurahkan sekuat tenaga dan segenap perasaannya, kekuatannya, kesungguhannya demi kelanjutan hidup keluarganya. "



"Kuberikan kepada lelaki tanggung jawab penuh sebagai pemimpin keluarga, sebagai tiang penyangga, agar dapat dipergunakan sebaik-baiknya, dan hanya inilah kelebihan yang hanya dimiliki oleh lelaki. walaupun sebenarnya amanah ini adalah di dunia dan di akhirat."



Terkejut anak dari tidurnya dan segera ia berlari, berlutut dan berdo'a hingga menjelang subuh.


setelah itu ia hampiri bilik ayahnya yang sedang berdoa, ketika ayahnya berdiri si anak menggenggam dan mencium telapak tangan ayahnya.



"AKU MENDENGAR DAN MERASAKAN BEBANMU, AYAH"



Bila ayah masih hidup jangan sia-siakan membuat hatinya tersenyum dan gembira,

Bila ayah telah tiada jangan putuskan tali silaturahim yang telah dirintisnya, 

dan do'akan agar TUHAN selalu menjaganya dengan sebaik-baiknya ....



Ulasan

Catatan popular daripada blog ini

Cerpen: Dia Idaman Jiwa

1
“Hi, boleh aku duduk kat sini?”

Aliah mendongak. Demi terpandang sahaja wajah itu, air mukanya terus berubah. Riak tidak senang ditunjukkan kepada lelaki itu.

“Cepatlah jawab! Senang aje soalan aku tu. Boleh, jawablah boleh...”

“Kalau saya jawab tak boleh?”

Abid terus menarik kerusi yang bertentangan dengan gadis itu.

“Aku tetap duduk sini jugak.” Balasnya sambil tersengih-sengih.

“Macam tak ada tempat lain!”

“Banyak! Sana kosong. Tu, di belakang kau tu pun kosong. Tapi, aku saja aje nak duduk depan kau. Dah sebulan aku cari kau tapi tak jumpa-jumpa. Alhamdulillah, hari ini dapat juga. Kau apa khabar? Sihat?”

Aliah tidak menyahut. Sebaliknya, dia terus menyuap dan kali ini suapannya sengaja dilajukan, tidak lagi menikmati nasi campur yang dimakan. Ketika itu, dia hanya berkeinginan untuk cepat-cepat menyudahkan makan tengah harinya supaya dia dapat pergi dari situ dengan segera. Dia tidak mahu mengadap muka lelaki yang kini sedang berada di hadapannya walau sehebat, sekacak mana se…

Yang Terakhir: Versi Cerpen

1
“Kau dah habis fikir ke, Khairi? Perempuan macam Najiha tu kau nak bawak ke majlis Annual Dinner kita? Tak malu ke nanti bila orang gelakkan kau?” tanya Hafiz sambil mengerutkan dahi. Dia keliru dengan sikap Khairi Iqbal. Rasanya, selama mereka berkawan, belum pernah walau sekali pun, Khairi memuji gadis yang seorang itu. Gadis yang bernama Izzatul Najiha. Tup tup, hari ini, dia buat keputusan hendak menjadikan Najiha pasangannya semasa majlis kemuncak nanti. Hisy, pelik betul!
“Malu, memanglah aku malu! Tapi aku cuma nak gunakan dia saja. Nak buat Amalina cemburu.” Balas Khairi sambil menyisip air lemon perlahan. Sejuk rasa kerongkongnya bila air itu menerobos masuk ke dalam rongga.
Mata Hafiz buntang. Kepala tergeleng-geleng.
“Kenyataan kau tu lagi buat aku tak faham! Kalau kau nak buat Amalina cemburu, kau patut bawak perempuan lain. Bukan si Najiha yang macam hantu bungkus tu!”
Terlambak tawa Khairi Iqbal mendengar kata-kata sahabat baiknya itu. Hantu bungkus? Si Najiha tu?…

Inikah Cinta? : Versi Cerpen

1

"Ouch!"

Cepat-cepat Janet menghisap jari telunjuk yang terhiris tadi. Setelah kesakitan itu hilang, dia segera membasuh jari itu. Dia kemudian mengelap lalu membalut luka dengan plaster.

"Sakit? Itulah pasal. Mak Nah dah cakap, biar mak Nah aje yang buat tapi Janet degil sangat. Hendak jugak main-main pisau," sindir orang gajinya menyebabkan Janet ketawa besar.

"Inilah yang orang cakap, luka di tangan nampak berdarah. Luka di hati tak siapa tahu. Kan, mak Nah?"

Mak Nah melepaskan keluhan sebelum mencuri pandang ke arah wajah ayu di sisinya yang kini sedang tunduk dan berpaling ke arah lain. Hati mak Nah kini turut melagukan irama sedih yang pasti sedang berdendang dalam hati Janet. Biarpun sudah lama ia berlalu, pasti kenangan itu hadir kembali sebaik rangkap pepatah itu diungkap. Tempat jatuh lagikan dikenang, inikan pula kisah cinta penuh keindahan. Ke mana hendak dicampakkan?

"Dah enam tahun... dia tentu dah lupakan saya. Tentu dah kahwin…